Makalah Bahasa Indonesia Berpikir Induktif
MAKALAH BAHASA INDONESIA
BERPIKIR INDUKTIF
Disusun Oleh :
Rinaldy Meinaki
19113744
3KA12
UNIVERSITAS GUNADARMA
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
2. Rumusan Masalah
3. Tujuan Penulisan
BAB 2 PEMBAHASAN
1. Konsep Berpikir Induktif
2. Konsep Bernalar dalam Karangan
3. Konsep Generalisasi
4. Hipotesis dan Teori
5. Analogi
6. Hubungan Gausal
7. Induksi dalam Metode Eksposisi
BAB 3 PENUTUP
Kesimpulan
Daftar Pustaka
BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pencarian pengetahuan
yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu
berdasarkan logika. Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan
penalaran dan pengetahuan yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah.
Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu
Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif. Penalaran deduktif merupakan
prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah
diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan
baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori,
hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata
lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan
teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan.
Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan
kata kunci untuk memahami suatu gejala. Penalaran induktif merupakan prosedur
yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan
berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam
hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Dengan
demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat
digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu
wujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada
hukum-hukum logika.
Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Penalaran Induktif ?
Tujuan Penulisan
1. Mengetahui definisi Penalaran Induktif.
2. Memahami arti Penalaran Induktif.
3. Mampu menjelaskan Penalaran Induktif.
BAB 2
PEMBAHASAN
1. Konsep Berpikir Induktif
Jalan induksi
mengambil jalan tengah, yakni di antara jalan yang memeriksa cuma satu bukti
saja dan jalan yang menghitung lebih dari satu, tetapi boleh dihitung semuanya
satu persatu. Induksi mengandaikan, bahwa karena beberapa (tiada semuanya) di
antara bukti yang diperiksanya itu benar, maka sekalian bukti lain yang
sekawan, sekelas dengan dia benar pula.
Buat contoh penegasan
kita kembali pada masyarakat Yunani, masyarakat yang sebenarnya merintis
kesopanan manusia. Lama sudah terpendam dalam otaknya Archimedes, pemikir
Yunani yang hidup 250 tahun sebelum Masehi, persoalan: apa sebab badan yang
masuk barang yang cair itu, jadi enteng kekurangan berat? Ketika mandi, maka
jawab persoalan tadi tiba-tiba tercantum di matanya dan kegiatan yang memasuki
jiwanya menyebabkan dia lupa akan adat istiadat negara dan bangsanya. Dengan
melupakan pakaiannya, ia keluar dari tempat mandinya dengan bersorak-sorakkan
“heureuka” saya dapati, saya dapati, adalah satu contoh lagi dari kuatnya nafsu
ingin tahu dan lazatnya obat haus “ingin” tahu itu. Archimedes menjalankan
experiment yang betul, ialah badannya sendiri, yang jadi benda yang
dicemplungkan ke dalam air buat mandi. Dengan cara berpikir, yang biasa
dipakainya sebagai pemikir besar, ia bisa bangunkan satu undang yang setiap
pemuda yang mau jadi manusia sopan mesti mempelajari dalam sekolah di seluruh
pelosok dunia sekarang.
Menurut undang
Archimedes, maka kalau benda yang padat (solid) terbenam pada barang cair, maka
benda tadi kehilangan berat sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh
benda itu.Tegasnya kalau berat Archimedes di luar air umpamanya B gram dan
berat air yang dipindahkan oleh badan Achimedes b gram, maka berat Archimedes
dalam air tidak lagi B gram, melainkan (B-b) gr.
Dengan contoh dirinya sendiri sebagai benda dan air sebagai barang cair,
maka simpulan yang didapatkan Archimedes dalam tempat mandi itu belumlah boleh
dikatakan undang. Semua benda dalam alam, kalau dicemplungkan ke dalam semua
zat cair mestinya kekurangan berat sama dengan berat-zat cair yang dipindahkan
oleh benda itu. Kalau semuanya takluk pada kesimpulan tadi, barulah kesimpulan
itu akan jadi Undang dan barulah Archimedes tak akan dilupakan oleh manusia
sopan, manusia yang betul-betul terlatih sebagai bapak undang itu. (Madilog. hal 100-101 Tan Malaka, Pusat Data
Indikator)
Metode berpikir
induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari
hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki
berlaku bagi fenomena sejenis yang belum
diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Contoh:
§ Jika dipanaskan, besi memuai.
§ Jika dipanaskan, tembaga memuai.
§ Jika dipanaskan, emas memuai.
§ Jika dipanaskan, platina memuai.
§ Jika dipanaskan, logam memuai.
§ Jika ada udara, manusia akan hidup.
§ Jika ada udara, hewan akan hidup.
§ Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
§ Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.
2.
Konsep Bernalar dalam Karangan
Dalam praktek proses deduktif dan induktif
itu diwujudkan dalam satuan--satuan tulisan yang merupakan paragraf. Di dalam
paragraf suatu pernyataan umum membentuk kalimat utama yang mengandung gagasan
utama yang dikernbangkan dalarn paragraf itu. Dengan demikian ada paragraf
deduktif de-ngan kalimat utama pada awal paragraf, paragraf induktif dengan
kalimat utama.
pada akhir paragraf, dan ada pula paragraf
dengan kalimat utama pada awal dan akhirnya.
Proses deduktif dan induktif itu juga
diterapkan dalam mengembangkan seluruh karangan. Paragraf-paragrat deduktif dan
induktif mungkin dipergunakan secara bergantian, bergantung kepada gaya yang
dipilih penulis sesuai dengan efek dan tekanan yang ingin diberikannya. Karya
ilmiah merupakan sintesis antara proses deduktif dan induktif, Kedua proses itu
terlihat secara jelas.
Yang diuraikan di atas ialah arah atau
alur penalaran dan bagaimana per-wujudannya di dalam tulisan atau karangan.
Pada bagian berikut akan dibahas wujud penalaran dihubungkan dengan urutan
pengembangan dan isi karangan. Dalam hal ini, karena paragraf pada hakikatnya
merupakan suatu karangan mini maka contoh-contoh yang diberikan sebagian besar
berupa paragraf.
3.
Konsep Generalisasi
Generalisasi adalah
proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Contoh:
Tamara
Bleszynski adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Nia Ramadhani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Nia Ramadhani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Generalisasi: Semua
bintang sinetron berparas cantik.
Pernyataan “semua
bintang sinetron berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena
belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya: Omas juga bintang iklan, tetapi
tidak berparas cantik.
Macam-Macam
Generalisasi
Generalisasi
sempurna Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar
penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus
penduduk
Generalisasi
Tidak Sempurna
Adalah generalisasi
dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan
juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh: Hampir seluruh
pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon.
4. Hipotesis dan Teori
Definisi Hipotesis
Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih
bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Hipotesis
berasal dari bahasa Yunani: hypo = di
bawah;thesis = pendirian, pendapat yang ditegakkan,
kepastian. Artinya, hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang
digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir
biasa, secara sadar, teliti, dan terarah.Dalam penggunaannya sehari-hari
hipotesa ini sering juga disebut dengan hipotesis, tidak ada perbedaan makna di
dalamnya.
Definisi Teori
Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang
saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai
fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan
antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. Labovitz dan
Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis” yang
mereka definisikan sebagai “menentukan” bagaimana dan mengapa variable - variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan.
5. Analogi
Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar
terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses
morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada.
Contohnya pada kata dewa-dewi, putra-putri, pemuda-pemudi, dan
karyawan-karyawati.
Jenis-jenis
Analogi
Analogi
induktif:
Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada
pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena
pertama terjadi juga pada fenomena kedua. Analogi
induktif merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu
kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti
terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan.
Contoh
analogi induktif :
Tim Uber Indonesia mampu masuk babak
final karena berlatih setiap hari. Maka tim Thomas Indonesia akan masuk babak
final jika berlatih setiap hari.
Analogi
deklaratif:
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan
sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru
menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang
sudah kita ketahui atau kita percayai.
Contoh
analogi deklaratif:
Deklaratif untuk penyelenggaraan negara
yang baik diperlukan sinergitas antara kepala negara dengan warga negaranya.
Sebagaimana manusia, untuk mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan
sinergitas antara akal dan hati.
6. Hubungan Kausal
Kausalitas merupakan prinsip sebab-akibat yang ilmu dan pengetahuan yang dengan
sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu
yang lain dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian
memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya
dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal
yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian
sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal
bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.
Kausalitas dibangun
oleh hubungan antara suatu kejadian (sebab) dan kejadian kedua (akibat atau
dampak), yang mana kejadian kedua dipahami sebagai konsekuensi dari yang
pertama.
Kausalitas merupakan asumsi dasar dari ilmu sains. Dalam metode ilmiah,
ilmuwan merancang eksperimen untuk menentukan kausalitas dari kehidupan nyata.
Tertanam dalam metode ilmiah adalah hipotesis tentang
hubungan kausal. Tujuan dari metode ilmiah adalah untuk menguji hipotesis
tersebut.
7. Induksi dalam Metode Eksposisi
Eksposisi adalah salah
satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis
dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya
penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Karangan ini berisi
uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau
pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi
dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi
ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi
demikian lazim disebut paparan proses.
Langkah
menyusun eksposisi:
§ Menentukan topik/tema
§ Menetapkan tujuan
§ Mengumpulkan data dari berbagai sumber
§ Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
§ Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.
BAB 3
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari
hasil makalah tentang penalaran dan jenis-jenisnya di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa banyak sekali yang dapat kita pelajari dari penalaran
tersebut. Bentuk pemikiran manusia
adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa
pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan
terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari
proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga
dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan
hasil dari rangkaian pengertian. Penalaran dalam prosesnya ada 2 macam yaitu penalaran Deduktif dan
penalaran Induktif. Penalaran Deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum
terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang
khusus. Penalaran Induktif adalah metode yang
digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Arifin, E Zaenal dan Tasai, S Amran. 2006. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika
Pressindo.
2. Tukan, P. 2006. Mahir Berbahasa Indonesia. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia.
3. Tatang, Atep et all. 2009. Bahasa Indonesiaku Bahasa Negeriku 3. Solo: PT.
Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
4. http://bangbiw.com/definisi-berfikir-induktif-dan-contohnya/
5. https://ahmadzackyfitra.wordpress.com/2015/04/01/makalah-bahasa-indonesia-penalaranberpikir-induktif-dan-berpikir-deduktif/
