Tugas Bahasa Indonesia
Monday, June 27, 2016
LAPORAN ILMIAH
Laporan Ilmiah
Laporan ilmiah adalah pemecahan suatu problem atau jawaban
suatu pertanyaan, yang didukung oleh fakta yang diperoleh dari atau yang dibuktikan
benarnya oleh penulisnya.
Laporan itu adalah bentuk prosa ilmiah yang dikembangkan
untuk keperluan sains, kria,dan usaha. Dan biasanya ditulis atas
permintaan,perintah atau jasa komisi, walaupun kadang - kadang laporan itu
diterbitkan atas kehendak dan biaya penulisnya sendiri.
Unsur-unsur Kerangka
Laporan
Kerangka Laporan Ilmiah umumnya terdiri dari unsur-unsur
sebagai berikut :
Halaman Judul
Biasanya terdiri dari 3 atau 4 bagian yang disusun dari atas
bawah sebagai berikut :
- Judul laporan terdiri dari subjek, atau didahului dengan ‘Laporan Tentang’, ’Laporan Kemajuan tentang’, ’Laporan Tahunan tentang’, ‘Penelitian tentang’ dan sebagainya. Judul laporan berbeda dari judul buku.
- Nama dan identitas penerima laporan
Unsur ini tidak selalu ditulis. Jika ditulis, maka sebelumnya didahului dengan kata-kata 'Diserahkan kepada'. Jika penerima laporan memiliki kedudukan resmi, tulislah kedudukan itu - Nama dan identitas penulis
Sebelum nama penulis biasanya didahului dengan perkataan 'Oleh' dan diikuti oleh gelar. - Tempat dan tanggal
Dibagian bawah halaman ditulis tempat dan tanggal dalam 2 baris terpisah.
Manfaat Penyusunan
Laporan
Laporan kegiatan merupakan alat yang penting untuk :
- Dasar penentuan kebijakan dan pengarahan pimpinan.
- Bahan penyusunan rencana kegiatan berikutnya.
- Mengetahui perkembangan dan proses peningkatan kegiatan.
- Data sejarah perkembangan satuan yang bersangkutan dan lain-lain
Praktik Menyusun
Laporan Ilmiah
1. Bagian Pembuka
Cover
Halaman judul
Halaman pengesahan
Abstraksi
Kata pengantar
Daftar isi
2. Bagian Isi
Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar belakang masalah
1.2 Perumusan masalah
1.3
Pembahasan atau pembatasan masalah
1.4 Tujuan penelitian
1.5
Manfaat penelitian
Bab II Kajian
teori atau tinjauan kepustakaan
2.1 Pembahasan teori
2.2
Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan
2.3 Pengajuan hipotesis
Bab III Metodologi penelitian
3.1 Waktu dan tempat penelitian
3.2
Metode dan rancangan penelitian
3.3 Populasi dan sampel
3.4 Instrumen penelitian
3.5
Pengumpulan data dan analisis data
Bab IV Hasil
Penelitian
4.1
Jabaran varibel penelitian
4.2 Hasil penelitian
4.3 Pengajuan hipotesis
4.4
Diskusi penelitian, mengungkapkan pandangan teoritis tentang hasil yang
didapatnya
Bab V Penutupan
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
3. Bagian penunjang
- Daftar pustaka
- Lampiran- lampiran antara lain instrumen penelitian
- Daftar Tabel
Penyajian Lisan
Latar Belakang Keterampilan
berbahasa mencakup empat komponen dasar ,yaitu menyimak, berbicara, membaca dan
menulis. Keempat keterampilan ini diperoleh secara bertahap dan teratur serta
berhubungan satu sama lain. Meskipun keterampilan berbicara ini telah diperoleh
oleh setiap orang ketika masa kanak-kanak, kebutuhan mahasiswa akan kemampuan
berbicara tak dapat diabaikan begitu saja. Penyajian lisan dapat disejajarkan
dengan berbicara. Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang
pada kehidupan masa kanak-kanak yang hanya didahului oleh keterampilan
menyimak, pada massa tersebutlah keterampilan berbicara dipelajari. Berbicara
sudah barang tentu berhubungan erat dengan perkembangan kosakata yang diperoleh
oleh setiap orang melalui kegiatan menyimak dan membaca atau juga menulis.
Untuk memenuhi kebutuhan pembelajarannya, kebutuhan mahasiswa akan berbicara
tidak lagi mengarah ke situ, tetapi lebih berorientasi kepada proses penyajian
lisan sebagai wadah penyampaian suatu gagasan. Kemahiran dalam penyajian lisan
bukan hanya menuntut penggunaan bahasa yang baik dan lancar melainkan juga
menghendaki persyaratan-persyaratan lain, misalnya : kebenaran, ketenangan
sikap, kesanggupan mengadakan reaksi yang cepat dan tepat, kesanggupan
menampilkan gagasan-gagasannya secara lancar dan teratur, serta ketidakkakuan
dan ketidakcanggungan gerak. Seiring dengan perkembangan bahwa penyajian lisan
itu sudah menjadi salah satu kebutuhan mahasiswa. Alasannya bahwa di samping
mahasiswa harus mampu mengungkapkan pikiran,gagasan,dan sikap ilmiahnya ke
dalam berbagai bentuk karya ilmiah yang berkualitas, juga mereka harus mampu
menyajikan karya ilmiah yang ditulisnya di depan forum sesuai dengan kriteria
penyajian yang baik. Untuk hal tersebut, berikut akan disajikan dua bentuk
penyajian lisan, yaitu presentasi ilmiah dan berpidato.
Daftar Pustaka
Tuesday, May 10, 2016
ASPEK PENALARAN DALAM KARANGAN ILMIAH
MAKALAH BAHASA INDONESIA
Disusun Oleh :
Rinaldy Meinaki
19113744
3KA12
UNIVERSITAS GUNADARMA
I. PENALARAN ILMIAH
Menurut Minto Rahayu, (2007 : 35), “Penalaran adalah
proses berpikir yang sistematis untuk memperoleh kesimpulan atau pengetahuan
yang bersifat ilmiah dan tidak ilmiah. Bernalar akan membantu manusia berpikir
lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari
kekeliruan. Dalam segala aktifitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan
diri atas prinsip penalaran. Bernalar mengarah pada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan
seseorang, karena penalaran mendidik manusi bersikap objektif, tegas, dan berani, suatu
sikap yang dibutuhkan dalam segala kondisi”.
Dalam sumber yang
sama, Minto Rahayu, (2007 : 35), “Penalaran adalah
suatu proses berpikir yang logis dengan
berusaha menghubung-hubungkan fakta untuk
memperoleh suatu kesimpulan. Fakta adalah kenyataan yang dapat diukur dan
dikenali. Untuk dapat bernalar, kita harus mengenali fakta dengan baik dan
benar. Fakta dapat dikenali melalui pengamatan,
yaitu kegiatan yang menggunakan panca indera, melihat, mendengar, membaui,
meraba, dan merasa. Dengan mengamati fakta, kita dapat menghitung, mengukur,
menaksir, memberikan ciri-ciri, mengklasifikasikan, dan menghubung-hubungkan.
Jadi, dasar berpikir adalah klasifikasi”.
II. MENULIS SEBAGAI PROSES PENALARAN
Menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis suatu topik kita harus berfikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya.
Menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis suatu topik kita harus berfikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya.
III. Jenis Penalaran
Minto Rahayu, (2007 :
41), penalaran dapat dibedakan dengan cara induktif dan deduktif.
1)
Penalaran induktif
Ialah proses berpikir yang bertolak dari
satu atau sejumlah fenomena atau gejala individual untuk menurunken suatu
kesimpulan (inferesi) yang berlaku umum.
Proses induksi dapat dibedakan menjadi:
a.
Generalisasi ialah proses berpikir berdasarkan
pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik
kesimpulan umum mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa.
b.
Analogi ialah suatu proses berpikir untuk menarik kesimpulan atau inferensi
tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan beberapa gejala khusus lain
yang memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri esensial penting yang bersamaan.
c.
Sebab akibat, prinsip umum hubungan sebab akibat menyatakan bahwa semua peristiwa harus
ada penyebabnya.
2) Penalaran deduktif
Ialah proses berpikir yang bertolak dari
prinsip, hukum, putusan yang berlaku umum tentang suatu hal atau gejala atas
prinsip umum tersebut ditarik kesimpulan tentang sesuatu yang khusus, yang
merupakan bagian dari hal atau gejala diatas.
IV. Isi Karangan
Isi karangan menyajikan fakta yang
berupa benda, kejadian, gejala, sifat ramalan, dan sebagiannya. Karya ilmiah
membahas fakta meskipun untuk pembahasan ini diperlukan teori atau pendapat.
Dalam bagian ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan fakta, yaitu
generalisasi dan spesifikasi, klasifikasi, perbandingan dan pertentangan,
hubungan sebab akibat, analogi, dan ramalan.
V. Fakta Sebagai Unsur dalam Penalaran Ilmiah
Agar dapat menalar dengan tepat, perlu kita memiliki pengetahuan tentang
fakta yang berhubungan. Jumlah fakta tak terbatas, sifatnya pun beraneka ragam.
Oleh sebab itu, sebagai unsur dasar dalam penalaran ilmiah, kita harus
mengetahui apa pengertian dari fakta.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fakta memiliki definisi sebagai
hal (keadaan atau peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar
ada atau terjadi. Selain itu, fakta juga merupakan pengamatan yang telah
diverifikasi secara empiris (sesuai dengan bukti atau konsekuensi yang teramati
oleh indera). Fakta bila dikumpulkan secara sistematis dengan beberapa sistem
serta dilakukan secara sekuensial maka fakta tersebut mampu melahirkan sebuah
ilmu. Sebagai kunci bahwa fakta tidak akan memiliki arti apa-apa tanpa sebuah
teori dan fakta secara empiris dapat melahirkan sebuah teori baru.
Untuk memahami hubungan antara fakta-fakta yang sangat banyak itu, kita
perlu mengenali fakta-fakta itu secara sendiri-sendiri. Ini berarti bahwa kita
harus mengetahui ciri-cirinya dengan baik. Dengan begitu, kita dapat mengenali
hubungan di antara fakta-fakta tersebut dengan melakukan penelitian.
Selain itu, kita dapat menggolong-golongkan sejumlah fakta ke dalam
bagian-bagian dengan jumlah anggota yang sama banyaknya. Proses seperti itu
disebut pembagian, namun pembagian di sini memiliki taraf yang lebih tinggi dan
disebut klasifikasi.
VI. KETERKAITAN PENALARAN DALAM PROSES PENULISAN ILMIAH
Suatu karangan sesederhana apapun akan mencerminkan kualitas penalaran seseorang. Penalaran itu akan tampak dalam pola pikir penyusuan karangan itu sendiri. Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup 5 aspek. Kelima aspek tersebut adalah:
Suatu karangan sesederhana apapun akan mencerminkan kualitas penalaran seseorang. Penalaran itu akan tampak dalam pola pikir penyusuan karangan itu sendiri. Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup 5 aspek. Kelima aspek tersebut adalah:
1) Aspek Keterkaitan
Aspek keterkaitan adalah hubungan antar bagian yang satu dengan yang lain dalam suatu karangan. Artinya, bagian-bagian dalam karangan ilmiah harus berkaitan satu sama lain. Pada pendahuluan misalnya, antara latar belakang masalah – rumusan masalah – tujuan – dan manfaat harus berkaitan. Rumusan masalah juga harus berkaitan dengan bagian landasan teori, harus berkaitan dengan pembahasan, dan harus berkaitan juga dengan kesimpulan.
Aspek keterkaitan adalah hubungan antar bagian yang satu dengan yang lain dalam suatu karangan. Artinya, bagian-bagian dalam karangan ilmiah harus berkaitan satu sama lain. Pada pendahuluan misalnya, antara latar belakang masalah – rumusan masalah – tujuan – dan manfaat harus berkaitan. Rumusan masalah juga harus berkaitan dengan bagian landasan teori, harus berkaitan dengan pembahasan, dan harus berkaitan juga dengan kesimpulan.
2) Aspek Urutan
Aspek urutan adalah pola urutan tentang suatu yang harus didahulukan atau ditampilkan kemudian dari hal yang paling mendasar ke hal yang bersifat pengembangan. Suatu karangan ilmiah harus mengikuti urutan pola pikir tertentu. Pada bagian Pendahuluan, dipaparkan dasar-dasar berpikir secara umum. Landasan teori merupakan paparan kerangka analisis yang akan dipakai untuk membahas. Baru setelah itu persoalan dibahas secara detail dan lengkap. Di akhir pembahasan disajikan kesimpulan atas pembahasan sekaligus sebagai penutup karangan ilmiah.
3) Aspek argumentasi
Aspek argumentasi adalah bagian yang menyatakan fakta, analisis terhadap fakta, pembuktian suatu pernyataan, dan kesimpulan dari hal yang telah dibuktikan. Hampir sebagian besar isi karangan ilmiah menyajikan argumen-argumen mengapa masalah tersebut perlu dibahas (pendahuluan), pendapat-pendapat atau temuan-temuan dalam analisis harus memuat argumen-argumen yang lengkap dan mendalam.
4) Aspek Teknik Penyusunan
Aspek teknik penyusunan adalah bagaimana pola penyusunan yang dipakai, apakah digunakan secara konsisten, karangan ilmiah harus disusun dengan pola penyusunan tertentu dan terknik bersifat baku dan universal. Untuk itu pemahaman terhadap teknik penyusunan karangan ilmiah merupakan syarat multak yang harus dipenuhi jika orang akan menyusun karangan ilmiah.
5) Aspek Bahasa
Aspek bahasa adalah bagaimana penggunaan bahasa karangan ilmiah harus disusun dengan bahasa yang baik, benar dan ilmiah. Penggunaan bahasa yang tidak tepat justru akan mengurangi kadar keilmiahan suatu karya sastra lebih-lebih untuk karangan ilmiah akademis
DAFTAR PUSTAKA
Wednesday, April 13, 2016
Makalah Bahasa Indonesia Berpikir Induktif
MAKALAH BAHASA INDONESIA
BERPIKIR INDUKTIF
Disusun Oleh :
Rinaldy Meinaki
19113744
3KA12
UNIVERSITAS GUNADARMA
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
2. Rumusan Masalah
3. Tujuan Penulisan
BAB 2 PEMBAHASAN
1. Konsep Berpikir Induktif
2. Konsep Bernalar dalam Karangan
3. Konsep Generalisasi
4. Hipotesis dan Teori
5. Analogi
6. Hubungan Gausal
7. Induksi dalam Metode Eksposisi
BAB 3 PENUTUP
Kesimpulan
Daftar Pustaka
BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pencarian pengetahuan
yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu
berdasarkan logika. Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan
penalaran dan pengetahuan yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah.
Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu
Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif. Penalaran deduktif merupakan
prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah
diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan
baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori,
hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata
lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan
teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan.
Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan
kata kunci untuk memahami suatu gejala. Penalaran induktif merupakan prosedur
yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan
berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam
hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Dengan
demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat
digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu
wujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada
hukum-hukum logika.
Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Penalaran Induktif ?
Tujuan Penulisan
1. Mengetahui definisi Penalaran Induktif.
2. Memahami arti Penalaran Induktif.
3. Mampu menjelaskan Penalaran Induktif.
BAB 2
PEMBAHASAN
1. Konsep Berpikir Induktif
Jalan induksi
mengambil jalan tengah, yakni di antara jalan yang memeriksa cuma satu bukti
saja dan jalan yang menghitung lebih dari satu, tetapi boleh dihitung semuanya
satu persatu. Induksi mengandaikan, bahwa karena beberapa (tiada semuanya) di
antara bukti yang diperiksanya itu benar, maka sekalian bukti lain yang
sekawan, sekelas dengan dia benar pula.
Buat contoh penegasan
kita kembali pada masyarakat Yunani, masyarakat yang sebenarnya merintis
kesopanan manusia. Lama sudah terpendam dalam otaknya Archimedes, pemikir
Yunani yang hidup 250 tahun sebelum Masehi, persoalan: apa sebab badan yang
masuk barang yang cair itu, jadi enteng kekurangan berat? Ketika mandi, maka
jawab persoalan tadi tiba-tiba tercantum di matanya dan kegiatan yang memasuki
jiwanya menyebabkan dia lupa akan adat istiadat negara dan bangsanya. Dengan
melupakan pakaiannya, ia keluar dari tempat mandinya dengan bersorak-sorakkan
“heureuka” saya dapati, saya dapati, adalah satu contoh lagi dari kuatnya nafsu
ingin tahu dan lazatnya obat haus “ingin” tahu itu. Archimedes menjalankan
experiment yang betul, ialah badannya sendiri, yang jadi benda yang
dicemplungkan ke dalam air buat mandi. Dengan cara berpikir, yang biasa
dipakainya sebagai pemikir besar, ia bisa bangunkan satu undang yang setiap
pemuda yang mau jadi manusia sopan mesti mempelajari dalam sekolah di seluruh
pelosok dunia sekarang.
Menurut undang
Archimedes, maka kalau benda yang padat (solid) terbenam pada barang cair, maka
benda tadi kehilangan berat sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh
benda itu.Tegasnya kalau berat Archimedes di luar air umpamanya B gram dan
berat air yang dipindahkan oleh badan Achimedes b gram, maka berat Archimedes
dalam air tidak lagi B gram, melainkan (B-b) gr.
Dengan contoh dirinya sendiri sebagai benda dan air sebagai barang cair,
maka simpulan yang didapatkan Archimedes dalam tempat mandi itu belumlah boleh
dikatakan undang. Semua benda dalam alam, kalau dicemplungkan ke dalam semua
zat cair mestinya kekurangan berat sama dengan berat-zat cair yang dipindahkan
oleh benda itu. Kalau semuanya takluk pada kesimpulan tadi, barulah kesimpulan
itu akan jadi Undang dan barulah Archimedes tak akan dilupakan oleh manusia
sopan, manusia yang betul-betul terlatih sebagai bapak undang itu. (Madilog. hal 100-101 Tan Malaka, Pusat Data
Indikator)
Metode berpikir
induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari
hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki
berlaku bagi fenomena sejenis yang belum
diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Contoh:
§ Jika dipanaskan, besi memuai.
§ Jika dipanaskan, tembaga memuai.
§ Jika dipanaskan, emas memuai.
§ Jika dipanaskan, platina memuai.
§ Jika dipanaskan, logam memuai.
§ Jika ada udara, manusia akan hidup.
§ Jika ada udara, hewan akan hidup.
§ Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
§ Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.
2.
Konsep Bernalar dalam Karangan
Dalam praktek proses deduktif dan induktif
itu diwujudkan dalam satuan--satuan tulisan yang merupakan paragraf. Di dalam
paragraf suatu pernyataan umum membentuk kalimat utama yang mengandung gagasan
utama yang dikernbangkan dalarn paragraf itu. Dengan demikian ada paragraf
deduktif de-ngan kalimat utama pada awal paragraf, paragraf induktif dengan
kalimat utama.
pada akhir paragraf, dan ada pula paragraf
dengan kalimat utama pada awal dan akhirnya.
Proses deduktif dan induktif itu juga
diterapkan dalam mengembangkan seluruh karangan. Paragraf-paragrat deduktif dan
induktif mungkin dipergunakan secara bergantian, bergantung kepada gaya yang
dipilih penulis sesuai dengan efek dan tekanan yang ingin diberikannya. Karya
ilmiah merupakan sintesis antara proses deduktif dan induktif, Kedua proses itu
terlihat secara jelas.
Yang diuraikan di atas ialah arah atau
alur penalaran dan bagaimana per-wujudannya di dalam tulisan atau karangan.
Pada bagian berikut akan dibahas wujud penalaran dihubungkan dengan urutan
pengembangan dan isi karangan. Dalam hal ini, karena paragraf pada hakikatnya
merupakan suatu karangan mini maka contoh-contoh yang diberikan sebagian besar
berupa paragraf.
3.
Konsep Generalisasi
Generalisasi adalah
proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Contoh:
Tamara
Bleszynski adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Nia Ramadhani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Nia Ramadhani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Generalisasi: Semua
bintang sinetron berparas cantik.
Pernyataan “semua
bintang sinetron berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena
belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya: Omas juga bintang iklan, tetapi
tidak berparas cantik.
Macam-Macam
Generalisasi
Generalisasi
sempurna Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar
penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus
penduduk
Generalisasi
Tidak Sempurna
Adalah generalisasi
dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan
juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh: Hampir seluruh
pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon.
4. Hipotesis dan Teori
Definisi Hipotesis
Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih
bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Hipotesis
berasal dari bahasa Yunani: hypo = di
bawah;thesis = pendirian, pendapat yang ditegakkan,
kepastian. Artinya, hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang
digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir
biasa, secara sadar, teliti, dan terarah.Dalam penggunaannya sehari-hari
hipotesa ini sering juga disebut dengan hipotesis, tidak ada perbedaan makna di
dalamnya.
Definisi Teori
Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang
saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai
fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan
antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. Labovitz dan
Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis” yang
mereka definisikan sebagai “menentukan” bagaimana dan mengapa variable - variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan.
5. Analogi
Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar
terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses
morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada.
Contohnya pada kata dewa-dewi, putra-putri, pemuda-pemudi, dan
karyawan-karyawati.
Jenis-jenis
Analogi
Analogi
induktif:
Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada
pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena
pertama terjadi juga pada fenomena kedua. Analogi
induktif merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu
kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti
terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan.
Contoh
analogi induktif :
Tim Uber Indonesia mampu masuk babak
final karena berlatih setiap hari. Maka tim Thomas Indonesia akan masuk babak
final jika berlatih setiap hari.
Analogi
deklaratif:
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan
sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru
menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang
sudah kita ketahui atau kita percayai.
Contoh
analogi deklaratif:
Deklaratif untuk penyelenggaraan negara
yang baik diperlukan sinergitas antara kepala negara dengan warga negaranya.
Sebagaimana manusia, untuk mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan
sinergitas antara akal dan hati.
6. Hubungan Kausal
Kausalitas merupakan prinsip sebab-akibat yang ilmu dan pengetahuan yang dengan
sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu
yang lain dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian
memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya
dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal
yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian
sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal
bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.
Kausalitas dibangun
oleh hubungan antara suatu kejadian (sebab) dan kejadian kedua (akibat atau
dampak), yang mana kejadian kedua dipahami sebagai konsekuensi dari yang
pertama.
Kausalitas merupakan asumsi dasar dari ilmu sains. Dalam metode ilmiah,
ilmuwan merancang eksperimen untuk menentukan kausalitas dari kehidupan nyata.
Tertanam dalam metode ilmiah adalah hipotesis tentang
hubungan kausal. Tujuan dari metode ilmiah adalah untuk menguji hipotesis
tersebut.
7. Induksi dalam Metode Eksposisi
Eksposisi adalah salah
satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis
dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya
penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Karangan ini berisi
uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau
pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi
dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi
ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi
demikian lazim disebut paparan proses.
Langkah
menyusun eksposisi:
§ Menentukan topik/tema
§ Menetapkan tujuan
§ Mengumpulkan data dari berbagai sumber
§ Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
§ Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.
BAB 3
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari
hasil makalah tentang penalaran dan jenis-jenisnya di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa banyak sekali yang dapat kita pelajari dari penalaran
tersebut. Bentuk pemikiran manusia
adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa
pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan
terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari
proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga
dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan
hasil dari rangkaian pengertian. Penalaran dalam prosesnya ada 2 macam yaitu penalaran Deduktif dan
penalaran Induktif. Penalaran Deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum
terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang
khusus. Penalaran Induktif adalah metode yang
digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Arifin, E Zaenal dan Tasai, S Amran. 2006. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika
Pressindo.
2. Tukan, P. 2006. Mahir Berbahasa Indonesia. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia.
3. Tatang, Atep et all. 2009. Bahasa Indonesiaku Bahasa Negeriku 3. Solo: PT.
Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
4. http://bangbiw.com/definisi-berfikir-induktif-dan-contohnya/
5. https://ahmadzackyfitra.wordpress.com/2015/04/01/makalah-bahasa-indonesia-penalaranberpikir-induktif-dan-berpikir-deduktif/
Saturday, March 12, 2016
Subscribe to:
Comments (Atom)
About Me
Popular Posts
-
Makalah Bahasa Indonesia Berpikir Induktif
-
TUGAS ( Jelaskan Ciri - Ciri dan Unsur - Unsur Organisasi ! )
-
ASPEK PENALARAN DALAM KARANGAN ILMIAH
-
Jurnal Nasional tentang EVOLUSI dan KINERJA KOMPUTER
-
Sebutkan hal-hal penting dalam membentuk Organisasi!
-
Contoh Kasus Investasi
-
Perilaku Masyarakat Terhadap Perubahan Budaya
-
JELASKAN MENGENAI KONFLIK ORGANISASIONAL DAN SEBUTKAN JENIS-JENIS KONFLIK TERSEBUT ?
-
SEBUTKAN HAL-HAL APA SAJAKAH YANG DAPAT MENIMBULKAN KONFLIK ORGANISASIONAL ?
-
TULISAN ( Tuliskan sistem manajemen dan sistem organisasi dari salah satu perusahaan yang bergerak di industri teknologi! )

