Wadirlantas : Perlu Ide Gila Menuntaskan Kemacetan Jakarta


Foto: Okezone


JAKARTA - Pekerjaan rumah penuntasan kemacetan Ibu Kota Jakarta yang tak pernah usai perlu dibenahi dengan ide gila. Ketika polisi selalu disalahkan dengan kemacetan, Wadirlantas Polda Metro Jaya, AKBP Sambodo Purnomo, merasa hal itu tidak fair.

Dia mengibaratkan kemacetan Jakarta seperti banjir di kamar mandi akibat kucuran dari kran air yang menyumbat lantai hingga terjadi air meluber.
"Polisi ibarat tukang sapu. Kalau kran airnya tidak dimatikan maka banjir kamar mandi itu tidak akan pernah berhenti. Seharusnya cara paling tepat mematikan kran air itu,” kata Sambodo, Rabu (13/11/2013).

Sambodo mengatakan, penyebab kemacetan yaitu pertumbuhan kendaaraan yang besar dan tidak pernah dipikirkan solusinya. "Selalu permasalahan diletakkan kepada polisi. Padahal kami tidak pernah terlibat di hulu,” terangnya.

Secara pribadi dirinya menegaskan, cara terbaik yakni adanya moratorium penambahan jumlah kendaraan di Jakarta.

"Ada lagi misalnya pembatasan usia pakai kendaraan lima tahun atau sepulug tahun. Selama kendaraaan pribadi itu lebih efisien dibandingkan kendaraan umum maka tidak mungkin orang mau pindah," tuturnya.

“Jadi sebenarnya konsep kota modern untuk Jakarta adalah parkir yang mahal. Masuk Jalan Sudirman-Thamrin bayar, pajak kendaraan dipermahal. Otomatis dia akan memarkir kendaraan pribadinya dan beralih memakai kendaraan umum,” ungkap Sambodo.

Namun, pendapat yang dia lontarkan bukan atas nama institusi Kepolisian. "Kalau saya bilang misalnya bahan bakar atau parkir itu dibuat mahal, nanti malah polisi yang kena dampak dan dianggap tidak berpihak kepada rakyat kecil. Tapi seharusnya memang harus ada ide gila semacam itu,” pungkasnya.

Menurut saya apa yang dikatakan Wardilantas mengenai ide-ide untuk menuntaskan kemacetan di Jakarta cukup masuk akal, dimana setiap masyarakat masih menganggap setiap kebijakan yang dilakukan sebelumnya selalu memberatkan kehidupan masyarakat. Memang diperlukan ide "gila" untuk dapat memeberantas kemacetan di Jakarta. Hanya saja tinggal bagaimana masyarakat bisa atau tidak bisa menerima ide tersebut nantinya.